Seven Rings for Life
=Hisal Rum=
malam sunyi itu, angin dingin merembet memeluk punukku, aku lihat dia lagi,berputar-putar dihalaman. Suara khasnya bersenandung nyanyian kesedihan, membuat kuduk berdiri. Aku sering menyangka dia hantu. Seorang perempuan dengan rambut yang panjang terurai tidak beraturan, sangat berantakan dan kacau sama seperti daster lusuh yang ia pakai. Dia mondar mandir terhuyung tidak karuan dan Sesekali terpaku, kemudian melirik tajam kearah semak di sekelilingnya. Lampu temaram diteras rumahnya, membantu mataku menangkap gerak-geriknya. Yang aku tahu, sekarang dia hanya tinggal sendirian. oh tidak, tidak, dia tidak sendirian tapi ditemani seorang petani atau lebih tepatnya seorang kakek berwajah keras bernama Sai. Dan, dia bernama Hisal Rum, Perempuan seusia ibuku, yang telah bertahun-tahun tinggal di rumah reyot sekaligus kotor bersama sikakek yang tidak bersahabat, Tepat di balik pagar tinggi belakang rumah kami.
Ibu selalu melarang agar aku menjauh dari mereka. Jangan pernah mengintip mereka apalagi sampai mengganggu. Tapi, dia tidak pernah sekalipun memberi tahu alasannya. Yang aku tahu, semenjak aku lahir, mereka sudah ada. mungkin mereka penduduk pertama dilorong tak bernama ini. lorong buntu yang di tutupi semak belukar sangkarnya biawak.
Aku sangat sering sendirian dirumah sampai tengah malam, ayahku telah tiada semenjak aku lahir, Ibu yang bilang. dan sejak saat itu ibu bekerja sebagai binatu dan berlanjut disebuah restoran sebagai pembersih paruh waktu. Dia selalu pulang larut malam.
Pernah satu malam, aku mendengar suara jeritan yang sangat melengking dan malam-malam lainnya, aku jg sering terjaga akibat jeritan itu. Jeritan berulang-ulang yang memecah keheningan malam yang kelu. Aku ngilu mendengarnya. Jeritannya seperti orang yang mengiris nadi secara perlahan-lahan dengan silet berkarat atau mungkin juga memotong jari-jari tangannya satu persatu. Jeritan yang sangat sakit. Ibu selalu bilang ''itu mungkin suara burung malam yang tengah berebut mangsa, gagak mungkin''. Tapi, aku tidak yakin.
rumah ku sungguh reyot. Tapi tidak sereyot rumah hisal rum. Di ujung lorong yg penuh semak dgn rumput yang tingginya dua kali tinggi manusia normal serta pohon-pohon kayu besar dan ini merupakan satu-satunya lorong yang tidak memiliki papan nama, hanya terdapat rumah kami, Hisal Rum dan sebuah rumah bercat kuning kusam dan sama reyotnya dengan rumahku. Disana tinggal sebuah keluarga dengan empat orang anak . Dua laki-laki dan dua perempuan. Yang paling tua bernama 0hs, laki-laki berumur tiga puluhan yang pemarah, apatis dan pengangguran. Setiap sore, kadang bisa sampai malam, Dia selalu bermain gitar dibangku samping rumahnya, tanpa baju dan selalu berkeringat sangat lengket dengan dadanya yang merah. bernyanyi menjerit2 dengan pengucapan yang tidak jelas. Aku rasa itu lagu metal kematian atau mungkin itu bahasa entah berantah, Dia juga jarang mandi. Aku enggan bila dia memanggilku. Baunya seperti babi.
anak kedua bernama Mifya, aku selalu di beri nya buku bacaan, yang tidak pernah aku ingat waktunya kapan, yang penting, itu pada saat aku pulang sekolah, Dia menungguku didepan rumahnya dengan senyumannya yang kas, gigi tonggosnya selalu duluan terlihat. Hampir selusin buku yang kukumpulkan darinya. Hanya sebagian saja yang kubaca. Aku tidak mengerti isi buku itu, aku menganggapnya mantra dukun yang mau mati atau bahasa kuno yang terbalik-balik susunan kalimatnya. Hanya beberapa kalimat yang bisa ku mengerti. Itupun sulit. buku2 itu tidak pernah memiliki judul pada sampul depannya dan siapakah penulisnya?, hanya mifya dan Tuhan yang tahu. Sampul depan dan belakang Selalu polos berwarna gelap dan buram. Kufikir ini buku pemujaan setan. mifya selalu bilang, sambil menyodorkan buku ketanganku, ''Baca ini, kau akan tau arti hidup didunia''. Selalu ada penekanan kata pada ''arti hidup'', dan kemudian dia melepaskan pegangan pada buku itu. Aku suka cengar cengir pada saat itu.
Anak ketiga, aku panggil dia Kha. Ya, hanya ''Kha''.sangat kurus, memakai kaca mata setebal pantat botol cola yang hampir menutupi wajahnya yang tirus., rambutnya tipis dan kulitnya pucat. Aku takut jika menyenggol badannya, takut persediaannya patah atau lepas. kesehariannya hanya menulis. Dia yang bilang begitu. Tapi dia tidak bilang padaku apa yang ditulisnya. Kha sangat senang jika aku mengajaknya ngobrol, dia akan cerita panjang lebar tentang impiannya dimasa mendatang dan ia sangat suka Ravelin. Aku tidak mengerti apa yang dia maksudkan dengan Ravelin. Kha terlalu serius, tidak ada rasa humor sedikitpun dan satu lagi, dia akan pergi begitu saja jika aku mengutarakan pendapatku yang baginya mungkin aneh. padahal, dia yang aneh.
lalu, anak yang terakhir, namanya sakhtyu, Manis, berambut panjang, pintar dan sering sekali menjadi bahan ejekan disekolah, mungkin karena penampilannya yg kuno, aku rasa pakaian yang sudah turun temurun diwariskan oleh nenek ke ibunya, lalu untuk kakaknya dan sekarang untuknya dan mungkin bisa untuk keturunannya nanti. ditambah lagi, dia tidak memakai pakaian serta asesoris yang sedang populer, bahkan hampir tidak ada sama sekali. Dia tidak memiliki gelang, cincin bahkan anting. Dia teman sekelasku. Kami sama2 akan lulus tahun depan dan siap2 mengikuti ujian masuk universitas dan kami betul2 senasib bahwa kami dari keluarga yang miskin. Kami akan pilih kuliah yang disediakan beasiswanya, jika tidak ada, yah...kami akan langsung bekerja. mungkin sebagai pengumpul besi2 tua untuk dijual atau berburu kecoa betina untuk kami ternak. Hidup memang kejam.
Oh ya,hampir terlupakan. mereka memiliki ayah yang humoris, aku panggil dia Mr.Nuker. Bekerja disebuah pabrik pengolahan kayu. Dia selalu memanggilku kepala microphone, mungkin karena potongan rambutku yang selalu plontos dan jarang. Anak yang kekurangan nutrisi. istrinya bernama Mijn burd.ya, bunda Mijn. Aku sulit menyebut namanya, orangnya sangat ramah dan penyayang, Aku sering diberinya bekal setiap pagi pada saat menjemput sakhtyu. Isinya selalu roti dengan selai kacang, kadang pernah roti dibakar dengan gula. Cukup nikmat.
Dan saat ini, aku sendirian di rumah. matahari semakin bersembunyi seperti ditelan langit. Langit berwarna merah dan aku ingin sekali mengintip hisal rum. apa yang sedang dilakukannya, dihalamannya yang kotor.
Aku melangkah lewat dapur menuju pagar belakang. Aku mengintip dari sela2 papan yang agak renggang dan menepatkan posisi kaki agar nyaman dan tidak berisik.
Ya, sekatang aku dapat melihatnya, hisal rum duduk sendirian dibangku lapuk di halaman depan rumahnya yang tidak begitu lebar. Dia terdiam dengan kepala miring kekiri, sesekali dia menangis ter isak-isak lalu seketika itu diam. Terus begitu ber ulang-ulang. Kemudian, dia mendongakkan wajahnya, dia menunjuk-nunjuk kearah langit yang memerah dan tertawa terbahak-bahak. aku yakin dia berzodiak cancer yang gagal. Cancer yang selalu berangan-angan kosong seperti Pandangannya yang kosong saat ini, aku rasa dia sudah gila. Aku bergeser kesela-sela papan yang lain. Agar aku jelas melihat wajahnya. hop, aku berada pada posisi yang pas. Tapi, pijakan kaki kananku tidak tepat, karena banyak kayu-kayu yang dibuang berserakan menggunung tidak beraturan. Aku yakin, ini pasti kerjaan ibu.
tiba2, hisal rum menjerit sambil merogoh-rogoh roknya. Dia memasukkan kedua tangannya kedalam rok. dia berdarah... Aku lihat !, roknya penuh darah... dia menjerit2 kesetanan dengan tangan memukul2 bagian kemaluannya. berulang-ulang dia melihat roknya dan menangis, lalu dia memukul-mukul lagi hingga tangannya penuh darah. Lalu, Dia mendongak melihat langit dan kemudian membuka mulutnya lebar-lebar, perlahan-lahan kedua tangannya menarik mulutnya kearah kiri dan kanan seperti ingin mengoyaknya. Jeritannya semakin menjadi-jadi, matanya liar, lidahnya dibiarkannya menjulur. Sekarang tarikan tangannya semakin kuat, mulutnya terkoyak paksa, mulutnya penuh darah. darah dari bekas tangannya. Tapi setelah ku perhatikan lagi, itu bukan dari tangannya, melainkan mulutnya yang terkoyak,pinggir bibirnya telah koyak sedikit... Aku memekik. Dan...oohh..Bruuakk, aku terjatuh, pijakan kaki ku pada kayu hilang keseimbangan. aku merakan nyeri pada paha kananku.ukkhh.. aku jadi susah bangkit. Tiba2 aku mendengar suara yang tidak asing. Suara kakek2 yang ku kenal.si bongkok itu. Dia seperti membanting sesuatu, lalu dia memaki-maki dan kemudian terdengar suara dentaman keras dan selang beberapa menit diikuti suara sesuatu yang terseret-seret. Lengkingan Hisal rum pun lenyap. Langit sudah gelap.saatnya aku kembali kedalam dan melihat luka pada pahaku. Aku terpincang-pincang.
setelah selesai, ternyata pahaku hanya memar. Aku duduk dimeja dapur dengan sepiring cereal hangat. Merasa tidak nyaman, aku pindah keruang tv. aku masih mengingat saat2 darah yang keluar dari roknya hisal rum dan saat2 mengerikan sewaktu dia berusaha mengoyak mulutnya. Apa yang difikirkan perempuan gila itu ?... Akkhh... Aku berusaha melupaKan bayangan itu. Tapi, rasa penasaran yang menggangguku terlampau besar hingga mengalahkan larangan ibu untuk tidak mengusik mereka.
Tiba-tiba,
Brak..brak... ''Dalta !, kau ada didalam ???''
Uukhh.. Siapa diluar ???, aku sedikit mengerang, aku jarang sekali mendapat tamu. Apalagi yang seperti ini. Brak.. Brak.. ''Hei..buka pintu mu !!!'' Suaranya semakin kencang.
''ok, ok.. aku datang''sedikit menjerit dan aku bergegas ke pintu depan sambil terpincang-pincang. Dan aku mendapati 4 orang bersaudara yang kukenal baik, dan yang paling depan adalah si apatis gempal Ohs.
Aa,,ada..apa..? Belum sempat aku menghabiskan pertanyaan, ohs langsung menerobos masuk dan diikuti lainnya. Sakhtyu hanya mengangkat bahunya sambil menatapku.
Ohs langsung ambil posisi diruang tv dan. Hei, hei..jangan makan cerealku !, ohs tidak menggubrisku, dia menuangkan semua isi cerealku kemulutnya yang lebar. Ukkhh...Sakhtyu kembali mengangkat kedua bahunya dan merapatkan bibirnya.
Kha !, ceritakan pada kami apa yang kau lihat tadi sore. Ohs menyenggol kaki kha.
Oouh..ook ok.. Kha sedikit tergagap.
Apakah ini sangat penting ?, kha menjawab dengan nada yang malas.
Ya, ini memang penting ! Timpal mifya yang duduk disebelah Ohs.
Aku sudah muak dengan semua ini, sangat muak !, kalian selalu sibuk dengan hal yang tidak penting dan, dan kalian menyulitkanku. Kha menepuk kedua paha nya dan menatap sekelilingnya.
Wajah Ohs mengeram melihat Kha. Sakhtyu sesekali mencuri pandang melihatku, Mifya mengernyutkan bibirnya sambil menopang dagunya dan aku sendiri berdiri didepan mereka dan tidak mengerti apa yang mereka ributkan.
Kha bangkit, lalu berputar-putar pelan mengelilingi kami Hingga tiga kali Dan tiba-tiba berhenti di belakang ku dan menepuk pundak kananku. Dia berkata ''dia, bisa kita andalkan !''.
Hei...hei.. apa maksudmu ???,
ya! Kau bisa kami andalkan.
Ok... Itu ide bagus. Karena Dalta yang paling dekat jaraknya dengan sumber rezeki kita. Hisal Rum.
Hah??? Hi..hisal Ruumm??? Aku terbelalak.
Ya... Dia itu ladang uang, dan kita akan jadi kaya. Ohs tampak sangat berapi-api.
Wah, kalian sedang membicarakan apa?. Tiba-tiba ibu muncul dengan menjinjing sebuah plastik hitam, mungkin itu makanan dan ia tersenyum.
hello ?...maaf kami mengganggu. Mifya berkata pada ibu.
Oouh.. Tidak apa-apa, saya kekamar dulu ya, lanjutkan bisnis nya. Hmmm. Ibu berlalu ke kamarnya sambil tersenyum ke arah kami.
''ok, sepertinya kami kembali dulu, besok kita lanjutkan, gimana Ohs?'' mifya meliriknya
Ohs langsung bangkit dan mendekatiku. Dia mendekatkan mulutnya yang lebar ketelingaku tapi tidak tersentuh. ''jangan bilang apa2 tentang kedatangan kami malam ini pada ibu mu atau siapapun, kau mengerti microphone ?!'' dia berbisik keras. Aku hanya mengangguk pelan.
''yup, kita pulang kerumah. Jaga dirimu baik2, besok jgn lupa jemput aku'' sakhtyu memegang pundakku.
''yaa''... sekedar senyum kecil yang ku paksakan.
Dan mereka pun berlalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar